ENREKANG.FS.COM—Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu (HPMM) memperingati hari lahir ke-80 pada 14 Oktober 2026. Berdiri sejak 14 Oktober 1946, perjalanan delapan dekade HPMM bukan sekadar catatan panjang sejarah organisasi, melainkan amanah perjuangan yang menuntut refleksi, evaluasi, dan peneguhan kembali arah gerakan.
Momentum milad ke-80 semestinya tidak berhenti pada seremoni, ucapan selamat, ataupun romantisme masa lalu. Delapan puluh tahun perjalanan organisasi harus menjadi ruang otokritik untuk menilai sejauh mana HPMM konsisten menjalankan konstitusi, memperkuat kaderisasi, menjaga independensi, serta mempertahankan keberpihakannya terhadap kepentingan masyarakat Massenrempulu.
Sejarah panjang tidak dengan sendirinya menjamin kemajuan organisasi. Usia delapan dekade justru menjadi alasan untuk memperbesar tanggung jawab dalam merawat nilai-nilai perjuangan.
Identitas Massenrempulu yang tumbuh di tengah lanskap pegunungan, termasuk Bambapuang dan Latimojong, mengajarkan keteguhan dalam menghadapi tantangan. Namun, keteguhan itu harus diterjemahkan ke dalam sikap dan tindakan nyata, bukan sekadar simbol atau jargon organisasi.
Nilai Islam, independensi, fungsi pengaderan, dan peran perjuangan sebagaimana termuat dalam Anggaran Dasar HPMM harus menjadi landasan dalam setiap langkah organisasi. Konstitusi tidak boleh hanya diposisikan sebagai dokumen formal, tetapi harus menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan, pengelolaan organisasi, penyelesaian persoalan internal, dan penentuan sikap terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Di sisi lain, HPMM dituntut untuk memperkuat relevansi sosialnya. Persoalan pendidikan, kesejahteraan petani, ketimpangan ekonomi, kerusakan lingkungan, dan kualitas pelayanan publik merupakan bagian dari realitas yang membutuhkan perhatian serius. Organisasi mahasiswa dan pelajar tidak cukup hanya hadir dalam ruang diskusi, tetapi juga harus mampu membangun tradisi intelektual, menyusun gagasan, melakukan advokasi, dan terlibat dalam perjuangan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Persoalan internal juga tidak boleh terus-menerus dikesampingkan. Penguatan integrasi, demokrasi internal, transparansi, akuntabilitas, dan konsistensi terhadap konstitusi merupakan prasyarat penting bagi organisasi yang ingin tetap berdiri kokoh. Persatuan tidak berarti membungkam kritik, sebagaimana loyalitas tidak berarti membenarkan setiap keputusan. Justru melalui kritik yang bertanggung jawab, organisasi dapat mengidentifikasi persoalan dan memperbaiki arah gerakannya.
Pertanyaan mendasar yang perlu direnungkan pada momentum milad ini adalah: apakah HPMM masih konsisten menempatkan dirinya sebagai wadah kaderisasi dan alat perjuangan masyarakat, atau justru berisiko kehilangan daya kritis akibat kompromi dan kedekatan dengan lingkar kekuasaan?
Pertanyaan tersebut bukan tuduhan terhadap pihak tertentu, melainkan peringatan bahwa independensi harus terus dijaga dan dibuktikan melalui sikap organisasi. HPMM perlu memastikan bahwa setiap relasi dengan kekuasaan tetap berpijak pada kepentingan masyarakat, bukan berubah menjadi ketergantungan yang membatasi kebebasan bersikap dan mengoreksi kebijakan.
Sangat mudah meneriakkan kebesaran sejarah HPMM di ruang publik. Namun, kebesaran itu kehilangan makna apabila persoalan internal tidak diselesaikan, kritik dianggap sebagai ancaman, dan prinsip organisasi hanya diingat ketika menguntungkan kepentingan tertentu. HPMM tidak boleh lantang merawat romantisme sejarah di luar, tetapi abai terhadap persoalan yang menggerogoti tubuh organisasinya sendiri.
Karena itu, milad ke-80 harus menjadi momentum untuk kembali pada konstitusi, merawat persatuan, memperkuat kaderisasi, menjaga independensi, serta menolak segala bentuk intervensi yang dapat melemahkan kemandirian organisasi. HPMM membutuhkan kader yang tidak hanya mampu berbicara tentang idealisme, tetapi juga berani menguji idealisme tersebut melalui konsistensi sikap, integritas, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Delapan dekade HPMM bukan sekadar warisan sejarah yang patut dirayakan, melainkan tanggung jawab yang harus diteruskan. Masa depan organisasi ditentukan bukan hanya oleh seberapa besar sejarah yang diwariskan, tetapi juga oleh keberanian generasi hari ini untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks, dan disinilah diuji seberapa besar kemampuan,dan kemandirian suatu organisasi mengarungi dan membelah ombak untuk mencapai tujuan.yang di impikan bersama.
Bravo HPMM.(Her)
Berita terbaru kategori Enrekang

Tinggalkan Balasan