SIDRAP.FRONTSULSEL.COM — Di tengah kesibukan Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, yang aktif menghadiri berbagai kegiatan masyarakat dan pemerintahan, harapan besar kini disampaikan oleh para pedagang Pasar Lawawoi, Kecamatan Watang Pulu.

Pasar yang baru saja direhabilitasi dengan dana swadaya masyarakat itu kini menyisakan persoalan serius. Sejumlah pedagang lama mengaku tidak mendapat tempat di bangunan baru, padahal mereka telah bertahun-tahun menggantungkan hidup dari berdagang di sana.

“Kami berharap Bapak Bupati bisa turun langsung melihat kondisi kami. Banyak pedagang lama yang kini terpaksa menganggur karena tidak mendapat lapak,” kata Viena, salah satu pedagang, Minggu (27/4/2025).

Viena menuturkan, para pedagang sebenarnya bersedia mengikuti ketentuan pemerintah terkait harga lapak, namun di lapangan, mereka dihadapkan pada harga yang jauh lebih tinggi dari ketentuan semula.

“Kami siap bayar Rp1,9 juta, Rp4 juta, atau Rp8 juta sesuai tarif resmi. Tapi kalau diminta Rp35 juta, itu memberatkan kami. Akibatnya, kami malah tersingkir,” tambahnya.

Situasi ini menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Ada kekhawatiran bahwa dalam proses relokasi pasar, faktor non-ekonomi ikut mempengaruhi keputusan pembagian lapak.

“Kami ingin keadilan ditegakkan. Jangan sampai ada diskriminasi hanya karena perbedaan pilihan politik masa lalu,” ujar seorang warga setempat.

Sementara itu, sejumlah pedagang baru yang sebelumnya tidak pernah berjualan di Pasar Lawawoi disebut mendapatkan tempat dengan lebih mudah. Hal ini semakin memperkuat aspirasi agar pemerintah daerah turun tangan langsung untuk meninjau dan mengevaluasi proses relokasi.

Hingga saat ini, Pemerintah Kabupaten Sidrap belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait keluhan para pedagang. Namun warga berharap, perhatian terhadap pembangunan dan kesejahteraan rakyat kecil tetap menjadi prioritas.

“Kami yakin, Bapak Bupati mau mendengar dan membantu mencari solusi. Pasar ini adalah nadi ekonomi masyarakat. Semoga persoalan ini bisa segera diatasi dengan bijaksana,” pungkas salah satu warga. (ersan)