SIDRAP.FS.COM – Proyek pembangunan drainase di Dusun III Padaelo, Desa Talumae, Kecamatan Watang Sidenreng, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), menjadi sorotan warga.
Bangunan yang baru rampung sekitar dua bulan lalu itu dilaporkan mulai mengalami keretakan di sejumlah titik, sehingga memunculkan pertanyaan terkait kualitas pengerjaannya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek drainase tersebut dibiayai melalui dana SILPA Alokasi Dana Desa (ADD) Tahun 2025 dengan nilai anggaran sekitar Rp92 juta. Pengerjaan sepanjang 252 meter itu dilaksanakan pada Mei 2026.
Pantauan di lokasi bersama sejumlah warga memperlihatkan adanya retakan pada bagian atas saluran drainase. Selain itu, beberapa bagian pondasi batu juga dinilai tidak tersusun rapi.
Seorang warga mengaku kecewa melihat kondisi bangunan yang baru selesai dikerjakan namun sudah menunjukkan kerusakan, padahal saluran tersebut disebut belum pernah dialiri air.
“Kalau tidak salah dikerjakan sekitar dua bulan lalu. Ini belum ada air yang lewat, tapi sudah banyak yang retak. Apalagi nanti kalau sudah dialiri air,” ujarnya, Rabu (29/7/2026).
Warga tersebut juga menyebut pekerjaan proyek dilakukan oleh tenaga dari luar Kabupaten Sidrap.
“Yang kerja ini orang luar,” katanya.
Menurutnya, masyarakat berharap pembangunan drainase tersebut dapat bertahan dalam jangka waktu lama karena dibangun menggunakan anggaran desa.
Namun, munculnya retakan di sejumlah titik menimbulkan kekhawatiran terhadap daya tahan bangunan.
“Kalau melihat kondisinya sekarang, kami khawatir bangunan ini tidak akan bertahan lama,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Talumae, Satri, menegaskan bahwa pelaksanaan pekerjaan telah mengacu pada Rencana Anggaran Biaya (RAB).
Ia bahkan menyebut penggunaan semen pada proyek tersebut melebihi ketentuan yang direncanakan.
“Kualitasnya sesuai RAB. Bahkan semennya di situ lebih dari yang direncanakan. Saya sudah perlihatkan RAB kepada tukang,” kata Satri saat dikonfirmasi, Kamis (30/7/2026).
Ia menilai retakan yang muncul merupakan hal yang biasa terjadi pada pekerjaan konstruksi di lapangan dan bukan berarti menunjukkan kualitas bangunan yang buruk.
“Namanya pekerjaan di lapangan kadang ada retak, itu biasa memang. Saya juga tidak pernah lihat lagi sejak tukang selesai bekerja,” ujarnya.
Satri juga mengungkapkan bahwa volume pekerjaan justru ditambah lebih dari 20 meter dibanding rencana awal tanpa mengurangi kualitas bangunan.
Meski demikian, kondisi drainase yang sudah mengalami keretakan meski belum lama selesai dibangun menjadi perhatian warga.
Mereka berharap pemerintah desa bersama pihak terkait melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap hasil pekerjaan tersebut agar kualitas proyek yang dibiayai dari anggaran desa benar-benar sesuai spesifikasi dan dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang. (iccank)
Berita terbaru kategori Sidrap

Tinggalkan Balasan