TOLIKARA, PAPUA PEGUNUNGAN.FS.COM – Ada tempat-tempat yang didatangi wisatawan karena keindahan alamnya. Ada pula tempat yang dikunjungi karena budaya dan sejarahnya. Namun, ada tempat yang mampu mempertemukan semuanya dalam satu pengalaman: alam, budaya, sejarah, religi, keramahan masyarakat dan kedamaian.

Tempat itu adalah Tolikara, Papua Pegunungan.

Pada 12–13 Agustus 2026, Kabupaten Tolikara akan membuka pintunya lebih lebar melalui Festival Etnik Religi Tolikara 2026. Festival ini bukan sekadar pertunjukan seni atau agenda seremonial pemerintah. Ia dirancang sebagai ruang perjumpaan antara budaya, iman, sejarah, adat, pariwisata, olahraga, pendidikan dan ekonomi kreatif.

Di tengah pegunungan Papua yang menyimpan panorama alam luar biasa, masyarakat Tolikara ingin menyampaikan satu pesan kepada Indonesia dan dunia:

Papua Pegunungan itu indah. Tolikara adalah bagian dari keindahan itu.

Tolikara, Ketika Tuhan Sedang Tersenyum

Ada ungkapan yang tepat untuk menggambarkan pesona Tolikara:

“Tolikara hadir ketika Tuhan sedang tersenyum.”

Bentang alam pegunungan, udara yang sejuk, lembah, hamparan hijau dan kehidupan masyarakat yang masih begitu dekat dengan alam menjadikan perjalanan ke Tolikara bukan sekadar perjalanan wisata.

Ia adalah perjalanan untuk menemukan pengalaman baru.

Bagi wisatawan mancanegara, Tolikara menawarkan sesuatu yang berbeda dari destinasi wisata yang sudah umum dikenal. Bagi wisatawan nusantara, Tolikara menjadi kesempatan untuk melihat Papua dari sisi yang lebih dekat: bukan hanya tentang bentang alamnya, tetapi juga tentang manusia, budaya, sejarah dan nilai-nilai kehidupan yang tumbuh di dalamnya.

Dan Festival Etnik Religi menjadi momentum terbaik untuk menyaksikannya.

Bukan Sekadar Festival, Tetapi Perjalanan Menemukan Jati Diri Tolikara

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 menghadirkan sejumlah atraksi utama yang memiliki makna kuat bagi masyarakat setempat.

Salah satunya adalah Tarian Kolosal Sejarah Masuknya Injil di Lembah Toli.

Pertunjukan ini bukan hanya tarian. Ia menjadi cara masyarakat Tolikara menceritakan kembali perjalanan sejarah dan perubahan kehidupan masyarakat pegunungan Papua melalui masuknya Injil.

Sejarah tersebut kemudian dipertemukan dengan Lendawi, tradisi ratapan dan syair perjumpaan yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Tolikara.

Melalui Lendawi, wisatawan tidak hanya melihat sebuah pertunjukan budaya, tetapi dapat memahami bagaimana masyarakat menyimpan kenangan, menghormati leluhur, memaknai kehidupan dan mengekspresikan perasaan melalui tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Festival ini juga menghadirkan Atraksi Tandem Paralayang, yang mempertemukan kekayaan budaya dengan panorama alam Tolikara dari udara.

Bagi wisatawan yang menyukai pengalaman berbeda, atraksi ini akan menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Dari ketinggian, keindahan bentang alam Tolikara dapat dinikmati dari perspektif yang berbeda.

Tidak berhenti di sana, festival juga menghadirkan pameran identitas distrik dan kampung, panggung kesaksian budaya dan perdamaian, serta ruang bagi pelaku UMKM, mama-mama Papua, petani, pengrajin, seniman dan pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan produk dan karya mereka.

Dengan demikian, wisatawan yang datang bukan hanya menjadi penonton.

Mereka akan menjadi bagian dari sebuah perjumpaan budaya.

Datang untuk Melihat Budaya yang Masih Hidup

Tolikara memiliki kekayaan budaya dan kearifan lokal yang tidak lahir dari panggung pertunjukan.

Budaya itu hidup dalam keseharian masyarakat.

Ia hadir dalam adat, bahasa, seni, tradisi, hubungan antarmanusia, cara masyarakat menghormati alam, serta nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, Festival Etnik Religi menjadi kesempatan bagi wisatawan untuk melihat budaya Tolikara dari dekat.

Bukan budaya yang sekadar dipajang.

Tetapi budaya yang masih hidup.

Di tengah masyarakat yang dikenal menjunjung keramahan, kesantunan, nilai adat dan kehidupan religius, wisatawan akan menemukan pengalaman yang berbeda.

Masyarakat Tolikara ingin menjadi tuan rumah yang baik.

Setiap tamu yang datang diharapkan tidak hanya membawa kamera dan oleh-oleh, tetapi juga membawa pulang cerita tentang masyarakat pegunungan Papua yang ramah, santun, berbudaya dan religius.

Tolikara Menjadi Rumah untuk Semua

Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos. mengajak wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal untuk datang menyaksikan Festival Etnik Religi Tolikara 2026.

Menurutnya, festival ini harus menjadi momentum untuk memperkenalkan wajah Tolikara kepada Indonesia dan dunia sebagai daerah yang kaya budaya, memiliki sejarah religi yang kuat, alam yang indah serta masyarakat yang ramah.

Pemerintah Kabupaten Tolikara juga terus mematangkan berbagai persiapan agar festival berlangsung aman, tertib, nyaman dan memberikan pengalaman terbaik bagi para tamu. Persiapan mencakup berbagai aspek, mulai dari sarana dan prasarana, kebersihan, pelayanan, keamanan hingga kesiapan masyarakat.

Pesan yang ingin dibawa pemerintah daerah sangat sederhana:

Tolikara adalah rumah untuk semua.

Tidak ada sekat antara wisatawan lokal dan wisatawan mancanegara.

Tidak ada jarak antara tamu dan tuan rumah.

Semua datang untuk menikmati keindahan, belajar tentang budaya, merasakan keramahan dan membangun persaudaraan.

Deklarasi dari Bumi Nawi Arigi: Papua Pegunungan Itu Indah

Festival Etnik Religi juga menjadi panggung bagi Pemerintah Kabupaten Tolikara untuk menyampaikan pesan yang lebih besar.

Bahwa Papua Pegunungan memiliki keindahan yang layak dikenal lebih luas.

Bahwa di balik pegunungan dan jauhnya perjalanan, ada masyarakat yang hidup dengan budaya, iman, adat dan kearifan lokal.

Bahwa Tolikara tidak hanya ingin dikenal sebagai sebuah wilayah administratif di Papua Pegunungan.

Tolikara ingin dikenal sebagai destinasi wisata budaya dan religi, sebagai ruang perjumpaan manusia, sebagai rumah bagi kebudayaan dan sebagai salah satu wajah indah Indonesia.

Karena itu, festival ini dipersiapkan bukan hanya untuk sukses sebagai acara, tetapi juga untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Ketika wisatawan datang, UMKM bergerak.

Ketika tamu membeli produk lokal, ekonomi masyarakat tumbuh.

Ketika budaya ditampilkan, generasi muda semakin mengenal jati dirinya.

Dan ketika Tolikara semakin dikenal, semakin besar pula kesempatan masyarakat untuk memperkenalkan potensi daerahnya kepada dunia.

Pemerintah Kabupaten Tolikara bahkan menempatkan festival ini sebagai bagian dari upaya menjadikan Tolikara sebagai etalase budaya Papua Pegunungan. (SUARACELEBES)

Jangan Hanya Mendengar Cerita tentang Tolikara, Datang dan Rasakan Sendiri

Ada keindahan yang tidak cukup diceritakan.

Ada budaya yang tidak cukup dilihat melalui layar.

Ada keramahan yang hanya bisa dirasakan ketika kita bertemu langsung dengan masyarakatnya.

Dan ada suasana religi yang hanya bisa dipahami ketika kita hadir di tengah masyarakat yang menjalani kehidupannya dengan iman dan tradisi.

Karena itu, Festival Etnik Religi Tolikara 2026 adalah kesempatan.

Kesempatan untuk melihat sejarah.

Kesempatan untuk mengenal budaya.

Kesempatan untuk menikmati alam.

Kesempatan untuk menyaksikan seni.

Kesempatan untuk merasakan keramahan masyarakat pegunungan Papua.

Dan kesempatan untuk menjadi bagian dari cerita baru tentang Papua Pegunungan.

Ayo datang ke Tolikara.

Ayo datang ke Bumi Nawi Arigi.

Saksikan Tarian Kolosal Sejarah Masuknya Injil di Lembah Toli. Rasakan kekayaan tradisi Lendawi. Nikmati atraksi Tandem Paralayang. Jelajahi pameran identitas distrik dan kampung. Temui masyarakatnya. Kenali budayanya. Nikmati alamnya. Dan rasakan sendiri keramahan Tolikara.

12–13 Agustus 2026, mari bertemu di Tolikara.

Datang sebagai wisatawan.

Datang sebagai sahabat.

Datang untuk menyaksikan sebuah festival.

Dan pulang membawa cerita tentang sebuah tanah yang indah.

Sebab Tolikara bukan hanya tentang tempat yang indah untuk dikunjungi.

Tolikara adalah tentang manusia, budaya, iman, alam dan persaudaraan.

Tolikara adalah bagian dari Papua Pegunungan.

Tolikara adalah bagian dari Indonesia.

Dan ketika keindahan alam, budaya dan keramahan masyarakatnya berpadu dalam satu perayaan, maka kita akan menemukan sebuah pesan sederhana:

“Tolikara, bagian dari senyum indah Indonesia.”

Ayo ke Tolikara. Saksikan Festival Etnik Religi 2026. Nikmati sensasinya, rasakan budayanya, temukan keindahannya, dan bawa pulang cerita dari Bumi Nawi Arigi.

Baca Juga:
Berita terbaru kategori Sidrap