SIDRAP.FS.COM — Menjadi petani di tengah perkembangan zaman tidak membuat Amir, pemuda generasi milenial asal Uloe, Desa Botto, Kecamatan Pitu Riase, Kabupaten Sidenreng Rappang, merasa minder. Justru dari sektor pertanian, ia membuktikan bahwa anak muda di desa juga bisa sukses dan mandiri secara ekonomi.
Amir menjalani aktivitas sebagai petani sekaligus konten kreator. Di sela-sela mengelola lahan pertaniannya, ia aktif membagikan aktivitas dan kesehariannya melalui media sosial hingga berhasil memiliki puluhan ribu followers.
Menariknya, bertani bukan sekadar aktivitas bagi Amir. Dari hasil pertanian yang dikelolanya, dalam satu kali panen ia mengaku dapat meraup keuntungan bersih sekitar Rp50 juta hingga Rp70 juta, tergantung hasil produksi dan kondisi pasar.
Semangat Amir untuk terus bertani juga terinspirasi dari sosok Bupati Sidenreng Rappang, H. Syaharuddin Alrif. Menurut Amir, Bupati Sidrap tersebut merupakan contoh nyata bahwa menjadi petani bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan ketika seseorang berhasil mencapai posisi tinggi.
Syaharuddin Alrif diketahui tumbuh dari keluarga petani. Bahkan setelah dipercaya menjadi Bupati Sidenreng Rappang, kecintaannya terhadap dunia pertanian tetap ditunjukkan dengan masih aktif bertani. Hal tersebut menjadi motivasi bagi Amir untuk tetap bangga dengan profesinya sebagai petani.
Bagi Amir, kisah tersebut menjadi bukti bahwa petani bisa menjadi siapa saja dan mencapai apa saja, selama memiliki kemauan, kerja keras, serta keberanian untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
“Saya terinspirasi dari Pak Bupati Syaharuddin Alrif. Beliau lahir dari keluarga petani dan sampai sekarang setelah menjadi bupati pun tetap bertani. Itu yang membuat saya semakin yakin bahwa tidak ada alasan bagi anak muda untuk malu menjadi petani,” ujar Amir.
Amir berharap semakin banyak generasi muda di Sidrap yang berani terjun ke sektor pertanian dan memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan potensi pertanian daerah.
Menurutnya, menjadi petani di era digital justru memiliki peluang besar. Bertani di sawah atau kebun, memanfaatkan teknologi, lalu mempromosikan hasil dan prosesnya melalui media sosial, merupakan kombinasi yang dapat membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda.
Kisah Amir menjadi gambaran bahwa kehidupan di desa bukanlah penghalang untuk berkembang. Dari Uloe, ia menunjukkan bahwa petani muda bisa produktif, sukses, memiliki puluhan ribu pengikut di media sosial, sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi milenial lainnya.(ersan)
Berita terbaru kategori Headline

Tinggalkan Balasan