SIDRAP.FS.COM — Bertani bukan sekadar pekerjaan bagi Muh Amin (19). Bagi pemuda asal Salobukkang, Kecamatan Dua Pitue, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), bertani sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak masih duduk di bangku sekolah.

Anak pertama pasangan Iwan dan Dalle itu mulai mengenal dunia pertanian ketika duduk di kelas I SMP 4 Maritenggae, Sidrap. Ia belajar mengelola sawah bersama paman dari pihak ibunya.

Sejak saat itu, ketertarikannya terhadap sektor pertanian terus tumbuh. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, Amin memilih melanjutkan aktivitasnya sebagai petani dan tetap bekerja bersama sang paman.

Kini, di usianya yang baru 19 tahun, Amin telah mampu menggarap sekitar 7 hektare lahan persawahan. Dari setiap hektare lahan yang dikelolanya, produktivitas panen dapat mencapai sekitar 11 ton gabah.

Jika harga gabah berada di kisaran Rp7.700 per kilogram, hasil produksi tersebut memiliki nilai sekitar Rp84,7 juta per hektare.

Angka itu tentu merupakan nilai kotor sebelum dikurangi biaya produksi. Namun, capaian tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki peluang ekonomi yang besar, termasuk bagi generasi muda.

Amin Erte, sapaan akrabnya, mengatakan dirinya tidak pernah menganggap bertani sebagai pekerjaan yang hanya cocok bagi orang tua.

Justru sejak mengenal pertanian di usia sekolah, ia melihat banyak peluang yang bisa dikembangkan dari sektor tersebut.

“Sejak SMP saya sudah belajar bertani sama paman. Awalnya ikut membantu, lama-lama mulai memahami bagaimana mengelola sawah, mulai dari pengolahan lahan sampai panen,” ujarnya, Senin, 31 Agustus 2026.

Menurut Amin, pengalaman yang diperolehnya sejak usia muda menjadi bekal penting untuk mengembangkan usaha pertaniannya saat ini.

Ia mengaku masih terus belajar, terutama dalam meningkatkan produktivitas lahan, memilih benih, mengatur penggunaan pupuk serta menghadapi berbagai tantangan yang muncul selama musim tanam.

“Bertani itu harus mau belajar. Tidak cukup hanya bekerja di sawah, kita juga harus tahu cara mengelola supaya hasilnya bisa lebih bagus,” katanya.

Bagi Amin, hasil panen bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Pengalaman, kemandirian dan kemampuan mengelola lahan juga menjadi modal penting untuk terus berkembang.

Ia berharap semakin banyak anak muda di Sidrap yang tidak ragu terjun ke sektor pertanian. Menurutnya, pertanian memiliki masa depan jika dikelola dengan serius, menggunakan pengetahuan dan teknologi yang tepat.

Kisah Muh Amin menjadi gambaran bahwa menjadi petani tidak harus menunggu usia dewasa. Dari bangku SMP, ia mulai belajar mencintai dunia pertanian.

Kini, di usia 19 tahun, ia telah mengelola lahan sekitar 7 hektare dan membuktikan bahwa sawah juga bisa menjadi ladang masa depan bagi generasi milenial. (iccank)

Baca Juga:
Berita terbaru kategori Sidrap