BONE.FS.COM—Ada cerita menarik di balik Baju Bodo Ala Bugis Soppeng yang disiapkan untuk Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, dalam rangkaian Festival Budaya Gau Maraja Bone 2026.

Meski Sherly Tjoanda tidak sempat hadir secara langsung pada penutupan Gau Maraja, sebuah komunikasi melalui sambungan telepon dengan Andi Akbar, S.Pd justru membuka cerita lain di balik busana tersebut.

Dalam komunikasi tersebut Sherly Tjoanda menyampaikan permintaan maaf karena tidak dapat hadir di Gau Maraja. Ia mengungkapkan bahwa dirinya masih berada di Jakarta dan pada hari berikutnya masih memiliki sejumlah agenda pertemuan dengan beberapa pejabat negara.

Namun di tengah ketidakhadirannya tersebut, Sherly Tjoanda menyampaikan apresiasi dan rasa terkesan atas Baju Bodo khas Soppeng yang telah disiapkan untuk dirinya.

Sherly bahkan meminta agar Baju Bodo tersebut dikirim langsung kepadanya untuk dikenakan pada berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan dan pariwisata.

Gagasan Budaya dari Soppeng

Baju Bodo tersebut merupakan bagian dari gagasan yang diinisiasi Andi Akbar, S.Pd, penggiat sosial, ekonomi dan kebudayaan asal Soppeng sekaligus alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Andi Akbar mengambil peran sebagai penggagas komunikator sekaligus fasilitator budaya. Ia mengangkat gagasan dan identitas budaya Soppeng, kemudian membangun komunikasi hingga gagasan tersebut dapat diterjemahkan menjadi sebuah karya busana.

Dalam proses kreatif tersebut Andi Akbar menggandeng Cantika Sabbena, milik Hj. Nurlaela Buhari, sebagai penerjemah konsep budaya ke dalam karya busana. Sementara H. Munadir Nurdin, birokrat senior Pemerintah Daerah Soppeng, turut dilibatkan dalam proses penguatan gagasan dan identitas budaya yang hendak dibawa melalui busana tersebut.

Baju Bodo Sutra Hijau dan Sarung Motif Kalong

Baju Bodo yang disiapkan untuk Sherly Tjoanda dibuat dari serat alam ulat sutra dengan warna hijau, yang dalam tradisi busana Bugis merepresentasikan kalangan bangsawan.

Keindahannya diperkuat dengan rangkaian payet kemudian dipadukan dengan sarung tenun Walida bermotif khas Soppeng, yakni motif Kalong.

Perpaduan tersebut menghadirkan sebuah busana yang tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga membawa identitas dan karakter budaya Soppeng.

Bagi Andi Akbar busana tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya Soppeng melalui ruang yang lebih luas.

Sementara bagi Sherly Tjoanda permintaan agar busana tersebut dikirim langsung ke Jakarta menunjukkan bahwa Baju Bodo tersebut tidak berhenti sebagai simbol pemberian.

Busana itu diharapkan dapat menjadi bagian dari penampilan Sherly dalam berbagai agenda kebudayaan dan pariwisata, sehingga identitas Bugis Soppeng berpeluang hadir di ruang yang lebih luas.

Dari Soppeng Menyeberang ke Ruang Kebudayaan yang Lebih Luas

Meski pertemuan di Gau Maraja belum terjadi secara langsung, komunikasi tersebut justru meninggalkan sebuah pesan menarik.

Dari Soppeng, sebuah gagasan budaya diangkat dan dikomunikasikan. Gagasan itu diterjemahkan menjadi karya oleh Cantika Sabbena. Baju Bodo kemudian dipersiapkan untuk seorang gubernur dari Maluku Utara.

Dan dari Jakarta muncul permintaan agar busana tersebut dikirim langsung untuk dikenakan dalam berbagai kegiatan kebudayaan dan pariwisata.

Sebuah Baju Bodo akhirnya tidak hanya menjadi busana. Ia menjadi medium yang membawa identitas Soppeng melintasi batas daerah.

Penulis: A. Akbar, S.Pd
Alumni HMI | Penggiat Sosial, Ekonomi & Kebudayaan

Baca Juga:
Berita terbaru kategori Nasional