SIDRAP.FS.COM—UPT SMPN 2 Watang Pulu menghadirkan inovasi inspiratif dalam pengelolaan lingkungan sekolah. Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Lukman, S.Pd., M.Si, sampah plastik yang sebelumnya berserakan kini berhasil diubah menjadi sumber pendapatan sekaligus sarana pendidikan karakter bagi siswa.
Awalnya, kondisi lingkungan sekolah cukup memprihatinkan. Sampah plastik banyak berserakan di halaman sekolah hingga di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang berada di sebelah timur sekolah. Bahkan, tumpukan sampah plastik yang sudah dikumpulkan di depan ruang Bank Sampah sekolah terlihat tidak terurus karena karung penyimpanannya rusak dan tidak lagi diperhatikan.
Melihat kondisi tersebut, Lukman kemudian mengambil langkah nyata dengan menghubungi pengepul sampah plastik. Ternyata, ada pihak yang siap membeli sampah plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Dari sinilah Bank Sampah “Lestari Silang” kembali diaktifkan. Pengurus bank sampah yang terdiri dari guru, tenaga kependidikan, dan siswa dibentuk kembali untuk mengelola program tersebut. Bank sampah dijadikan sebagai wadah penimbangan sampah plastik yang disetor siswa dari setiap kelas setiap hari Jumat.
Selain itu, setiap kelas juga memiliki buku tabungan bank sampah untuk mencatat jumlah setoran sampah plastik yang dikumpulkan siswa. Program ini perlahan membangun kesadaran siswa untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan.
“Penjualan perdana pada periode April mencatat hasil yang cukup menggembirakan. Sebanyak 256 kilogram sampah plastik berhasil dijual dengan harga Rp1.300 per kilogram”.Terang Lukman pada awak media ini.(Sabtu,23/5/26)
Sejak Bank Sampah Lestari Silang kembali aktif, kondisi lingkungan sekolah berubah drastis. Sampah plastik kini jauh berkurang, bahkan banyak siswa yang membawa sampah plastik dari rumah untuk disetor ke sekolah. Setiap kelas dihimbau menyetor minimal 5 kilogram sampah plastik setiap pekan.
Menariknya, hasil penjualan sampah dari masing-masing kelas diumumkan saat upacara hari Senin. Kepala sekolah juga memberikan reward berupa uang pembinaan kepada tiga kelas dengan jumlah setoran sampah terbanyak sebagai bentuk motivasi bagi siswa.
Inovasi ini pun mendapat perhatian khusus dari Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif. Ia mengaku kagum dan memberikan apresiasi kepada kepala sekolah, guru, serta siswa atas inovasi cemerlang yang berhasil mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis sekaligus menciptakan lingkungan sekolah yang lebih bersih dan sehat.
“Harapan kami, program ini dapat membentuk karakter siswa agar lebih peduli terhadap kebersihan dan lingkungan sejak dini. Kami juga bersyukur karena inovasi ini mendapat perhatian dan apresiasi dari Bapak Bupati Sidrap,” tutup Lukman.
Program Bank Sampah Lestari Silang menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari sekolah. Dengan kreativitas dan kepemimpinan yang baik, sampah yang selama ini dianggap masalah ternyata mampu menjadi sumber manfaat ekonomi sekaligus media pendidikan karakter bagi siswa. (ersan)









Tinggalkan Balasan