LAPORAN AKHIR PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
PROGRAM KEMITRAAN WILAYAH
SOSIALISASI E-MODUL STABILISASI BAYI PASCA RESUSITASI SEBAGAI UPAYA PENGUATAN PENGETAHUAN BAGI TENAGA KESEHATAN DI PUSKESMAS MINASA UPA KOTA MAKASSAR
DISUSUN OLEH :
WIRAWATI AMIN, S.ST., M.Keb. NIDN. 4025048001 FITRIATI SABUR, S.ST., M.Keb NIDN. 4026038101
ADE DEVRIANY, SKM., M.Kes. NIDN. 4006038802 AGUSTI FAUZIAH, S.Kep., M.Kep. NIDN. 4001087702
KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN KEBIDANAN
2025
IDENTITAS DAN URAIAN UMUM
- Judul Pengabdian Kepada Masyarakat :
Sosialisasi E-Modul Stabilisasi Bayi Pasca Resusitasi Sebagai Upaya Penguatan Pengetahuan Bagi Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Minasa Upa Makassar - Tim Pengabdi :
No Nama Jabatan Bidang Keahlian Instansi Asal
1 Wirawati Amin, SST.,M.Keb Ketua Kebidanan Poltekkes Kemenkes Makassar Prodi Pendidikan Profesi Bidan
2 Fitriati Sabur, SST., M.Keb
Anggota Kebidanan Polkesmas Prodi Sarjana Terapan Kebidanan
3 Ade Devriany, SKM., M.Kes. Anggota Kesehatan Masyarakat Polkesmas Prodi Pendidikan Profesi Bidan - Agusti Fauziah, S.Kep., M.Kep. Anggota Keperawatan Poltekkes Kemenkes Makassar Prodi D.III Keperawatan Makassar
- Objek (khalayak sasaran) Pengabdian kepada masyarakat :
Adapun khalayak sasaran pada kegiatan ini adalah tenaga kesehatan (Bidan, Perawat dan Dokter) yang diberikan sosialisasi E-Modul Stabilisasi Bayi Pasca Resusitasi Sebagai Upaya Penguatan Pengetahuan di Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar. - Masa Pelaksanaan (Persiapan hingga Pelaporan dan Luaran):
Program Pengabdian Masyarakat Kemitraan Wilayah dilaksanakan dalam rentang waktu enam bulan, mulai April hingga Oktober 2025. Kegiatan mencakup tahap persiapan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi proses, serta monitoring evaluasi terhadap pencapaian luaran dan target yang ditetapkan. - Lokasi Pengabdian kepada Masyarakat :
Kegiatan PKW akan diselenggarakan di Puskesmas Minasa Upa, Kota Makassar. - Mitra yang Terlibat dan Kontribusinya :
a. Tenaga kesehatan yang terdiri dari bidan, perawat, dan dokter berperan sebagai peserta sosialisasi, menjadi kelompok intervensi, serta berfungsi sebagai subjek dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
b. Bidan Koordinator bertindak sebagai mitra yang memberikan kontribusi sebagai narasumber. - Permasalahan yang ditemukan dan solusi yang ditawarkan:
Asfiksia neonatorum merupakan salah satu faktor utama penyebab kematian bayi baru lahir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. WHO melaporkan bahwa sekitar 900.000 bayi meninggal setiap tahunnya akibat komplikasi persalinan, salah satunya asfiksia. Di kawasan Asia Tenggara, sekitar 52% kematian balita terjadi pada masa neonatal dan dipicu oleh prematuritas, asfiksia neonatorum, infeksi pada bayi baru lahir, pneumonia, serta diare (WHO, 2020).
Data tahun 2019 di Indonesia menunjukkan bahwa penyebab kematian neonatal terbesar adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) sebanyak 7.150 kasus (35,3%), diikuti asfiksia neonatorum 5.464 kasus (27,0%), kelainan bawaan 703 kasus (3,5%), dan tetanus neonatorum 4.340 kasus (21,4%).
Faktor dominan penyebab kematian bayi meliputi pertumbuhan janin yang terhambat, kekurangan nutrisi pada janin, kelahiran prematur, BBLR, hipoksia intrauterin, serta asfiksia neonatorum. Sejumlah kondisi turut meningkatkan risiko tersebut, seperti tingkat pendidikan ibu, status sosial, dan cakupan layanan kesehatan yang belum optimal.
Di Indonesia, asfiksia menyumbang sekitar 27% kematian neonatal [3] Bayi yang berhasil diselamatkan melalui resusitasi sering mengalami gangguan stabilisasi sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. namun banyak tenaga kesehatan khususnya yang bertugas di kamar bersalin yang belum memiliki pemahaman dan keterampilan yang cukup dalam menstabilkan bayi pasca resusitasi.
Puskesmas Minasa Upa Makassar adalah salah satu Puskesmas yang berada dalam wilayah binaan mitra. Minimnya edukasi dan sumber daya serta mayoritas puskemas di Sulawesi Selatan bersifat rawat jalan sehingga pelaksanaan stabilisasi bayi pasca resusitasi kurang maksimal. Penanganan yang tidak optimal, berisiko memperburuk kondisi bayi, bahkan meningkatkan angka kematian neonatal. Oleh karena itu, diperlukan intervensi berupa edukasi kepada tenaga kesehatan mengenai langkah-langkah stabilisasi bayi pasca resusitasi sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi
Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan E-Modul Stabilisasi Bayi Pasca Resusitasi, yang akan menjadi panduan tenaga kesehatan dalam menangani bayi yang telah menjalani resusitasi sebelum mendapatkan perawatan lebih lanjut. Berdasarkan hal tersebut pengabdi merasa perlu untuk memberikan edukasi secara khusus kepada tenaga kesehatan dengan menggunakan E-Modul stabilisasi bayi pasca resusitasi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. - Kontribusi mendasar pada khalayak sasaran
Mensosialisasikan E-Modul Stabilisasi Bayi Pasca Resusitasi, diharapkan akan menjadi panduan tenaga kesehatan dalam menangani bayi yang telah menjalani resusitasi sebelum mendapatkan perawatan lebih lanjut. - Rencana luaran berupa jasa, sistem, produk/barang, paten, atau luaran lainnya yang ditargetkan:
Luaran Wajib :
Luaran wajib Pengabdian Kepada Masyarakat berupa artikel/prosiding, publikasi media massa dan peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan
Luaran Tambahan :
Luaran tambahan pada kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah E-Modul dan HaKI
RINGKASAN
Asfiksia neonatorum merupakan salah satu penyebab utama kematian neonatal di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut WHO, sekitar 900.000 bayi baru lahir meninggal setiap tahun akibat komplikasi kelahiran, termasuk asfiksia. Bayi yang berhasil diselamatkan melalui resusitasi sering mengalami gangguan stabilisasi sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. namun banyak tenaga kesehatan khususnya yang bertugas di kamar bersalin yang belum memiliki pemahaman dan keterampilan yang cukup dalam menstabilkan bayi pasca resusitasi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mensosialisasikan E-Modul Stabilisasi Bayi Pasca Resusitasi, yang akan menjadi panduan tenaga kesehatan dalam menangani bayi yang telah menjalani resusitasi sebelum mendapatkan perawatan lebih lanjut. Kegiatan ini diikuti oleh 40 orang tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, bidan dan perawat yang bekerja di Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar. Metode yang digunakan adalah memberikan pre test dan post test untuk melihat peningkatan pengetahuan setelah disosialisasikannya E_Modul Stabilisasi Bayi Pasca Resusitasi. Hasil pre test dan post test diperoleh bahwa Sosialisasi tentang stabilisasi bayi pasca resusitasi dengan menggunakan E-modul, terbukti efektif meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan di Puskesmas Minasa Upa
PRAKATA
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga laporan akhir pengabdian kepada masyarakat ini dapat diselesaikan. Laporan ini disusun sebagai gambaran pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Program Kemitraan Wilayah, yang merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi di lingkungan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Makassar. Di dalamnya memuat rangkaian kegiatan mulai dari tahap persiapan hingga tahap evaluasi.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih belum sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak untuk perbaikan di masa mendatang. Semoga kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat memberikan manfaat serta membantu semua pihak yang terlibat.
Makassar, November 2025
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
IDENTITAS DAN URAIAN UMUM iii
RINGKASAN viii
KATA PENGANTAR ix
DAFTAR ISI x
BAB 1. PENDAHULUAN.. 1
BAB 2. SOLUSI PERMASALAHAN.. 6
BAB 3. METODE PELAKSANAAN.. 7
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN.. 9
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN… 13
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Analisis Situasi
Kematian Balita di Wilayah Asia Tenggara sebahagian besar terjadi pada masa neonatal yaitu sebesar 52%. Penyebab kematian neonatal disebabkan karena adanya penyulit/masalah pada bayi diantaranya karena kelahiran prematur, kejadian asfiksia neonatorum, adanya infeksi pada neonatal yang disertai pneumonia dan diare. Di Indonesia tercatat beberapa penyebab kematian neonatal pada tahun 2019, diantaranya karena Berat Badan Lahir yang Rendah (BBLR) sebanyak 7.150 kasus (35,3%), kejadian asfiksia neonatorum sebanyak 5.464 kasus (27,0%), adanya kelainan bawaan sejak lahir sebanyak 703 kasus (3,5%), serta kejadian tetanus Neonatorum sebanyak 4.340 kasus (21,4%). Asfiksia neonatorum, kejadian hypoksia intrauteri, kelahiran premature serta BBLR menjadi penyebab kematian terbanyak. Terdapat beberapa hal yang memicu terjadinya kematian bayi tersebut antara lain: tingkat pendidikan ibu dan status sosial serta cakupan intervensi dengan kualitas yang kurang optimal [2].
Tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam keberhasilan pengelolaan kejadian asfiksia. Salah satu upaya penanganan bayi yang mengalami asfiksia saat lahir adalah melakukan resusitasi yang kemudian dilanjutkan dengan stabilisasi kondisi bayi setelah tindakan tersebut. Respons cepat dan tepat dari tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan peluang hidup bayi. Keberhasilan resusitasi neonatal sangat bergantung pada serangkaian tindakan krusial, sehingga tenaga kesehatan dituntut untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menangani kegawatdaruratan pada bayi baru lahir dengan asfiksia. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mempercepat penurunan angka kesakitan dan kematian neonatal.
Terdapat enam komponen yang harus diperhatikan dalam proses stabilisasi bayi dengan asfiksia oleh tenaga kesehatan. Namun, pada praktiknya masih ada beberapa komponen yang belum dijalankan secara optimal, khususnya terkait stabilisasi kadar gula darah dan pemeriksaan laboratorium [5]. Temuan ini sejalan dengan penelitian Alasiry yang melaporkan bahwa 64,7% bayi rujukan masuk rumah sakit dalam keadaan tidak stabil, terutama akibat hipotermia, diikuti hipoksia, hipoglikemia, dan hipoperfusi.
Kondisi tersebut sebenarnya dapat dicegah dengan meningkatkan kapasitas pengetahuan tenaga kesehatan melalui edukasi mengenai penanganan kegawatdaruratan pada bayi asfiksia secara cepat dan tepat. Penelitian lain menunjukkan bahwa edukasi menggunakan aplikasi E-modul dan Quizizz melalui Google Form tentang program S.T.A.B.L.E pada bayi pasca resusitasi mampu meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan di Puskesmas Kampili dan Somba Opu, Kabupaten Gowa. [7].
Selain itu, Peraturan Pemerintah No. 53 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial, pada pasal 4 poin 2, menegaskan bahwa penanganan kegawatdaruratan asfiksia pada bayi harus dilakukan secara cepat dan efektif oleh tenaga kesehatan. Pemberian edukasi mengenai penanganan bayi asfiksia menggunakan program S.T.A.B.L.E setelah resusitasi menjadi langkah awal yang sangat penting. Pemanfaatan IPTEK sebagai metode edukasi juga dapat diterapkan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan. Penerapan kompetensi tersebut diharapkan dapat mengurangi kejadian cedera akibat asfiksia neonatorum serta menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir.
B. Permasalahan Mitra
Penelitian yang dilakukan oleh Afriani dan Fitriati Sabur yang dilaksanakan pada tahun 2022 menunjukkan bahwa edukasi dengan penggunaan E-modul dan Quiziz melalui Google Form terkait program STABLE pada bayi pasca resusitasi terbukti mampu meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan di Puskesmas Kampili dan Somba Opu, Kabupaten Gowa [7].
Kematian Balita di Wilayah Asia Tenggara sebahagian besar terjadi pada masa neonatal yaitu sebesar 52%. Penyebab kematian neonatal disebabkan karena adanya penyulit/masalah pada bayi diantaranya karena kelahiran prematur, kejadian asfiksia neonatorum, adanya infeksi pada neonatal yang disertai pneumonia dan diare. Di Indonesia tercatat beberapa penyebab kematian neonatal pada tahun 2019, diantaranya karena BBLR tercatat 7.150 kasus (35,3%), kejadian asfiksia pada neonates tercatat 5.464 kasus (27,0%), adanya kelainan bawaan sejak lahir tercatat 703 kasus (3,5%), serta kejadian tetanus pada neonates tercatat 4.340 kasus (21,4%). Asfiksia neonatorum, kejadian hypoksia intrauteri, kelahiran premature serta BBLR menjadi penyebab kematian terbanyak. Terdapat beberapa hal yang memicu terjadinya kematian bayi tersebut antara lain: tingkat pendidikan ibu dan status sosial serta cakupan intervensi dengan kualitas yang kurang optimal [2].
Tenaga kesehatan memegang peranan penting dalam keberhasilan pengelolaan kejadian asfiksia. Salah satu tindakan penting bagi bayi yang mengalami asfiksia saat lahir adalah melakukan resusitasi yang kemudian dilanjutkan dengan stabilisasi kondisi bayi setelahnya. Respon yang cepat dan akurat dari tenaga kesehatan sangat diperlukan untuk meningkatkan peluang hidup bayi. Keberhasilan resusitasi neonatal sangat bergantung pada langkah-langkah krusial yang dilakukan, sehingga tenaga kesehatan dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menangani kegawatdaruratan pada bayi yang lahir dengan kondisi asfiksia. Upaya ini berkontribusi untuk mempercepat penurunan morbiditas dan kematian neonatal.
Hasil studi awal di Puskesmas Minasa Upa menunjukkan bahwa sebagian tenaga kesehatan masih belum memahami konsep STABLE secara menyeluruh. Pengabdi kemudian melakukan survei pendahuluan melalui sesi tanya jawab dengan beberapa tenaga kesehatan di puskesmas tersebut untuk memperoleh gambaran awal. Wawancara dilakukan secara acak guna menilai tingkat pemahaman para tenaga kesehatan..
C. Tujuan
- Tujuan Umum
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan sosialisasi / penyegaran materi dengan menggunakan E-Modul pada tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas Minasa Upa, tentang Stabilisasi bayi baru lahir pasca resusitasi . Hal ini dimaksudkan untuk memberi penguatan atau penyegaran Kembali tentang materi tersebut. - Tujuan Khusus
a. Mendapatkan gambaran pengetahuan tenaga kesehatan sebelum diberikan sosialisasi
b. Memberikan sosialisasi pada seluruh tenaga kesehatan yang berada di Puskesmas Minasa Upa tentang stabilisasi bayi baru lahir pasca resusitasi.
c. Mendapatkan gambaran pengetahuan tenaga kesehatan setelah diberikan sosialisasi
d. Melakukan evaluasi akhir dari pemberian sosialisasi
D. Manfaat Program
- Terjadinya peningkatan wawasan dan pemahaman tenaga kesehatan mengenai prosedur stabilisasi bayi baru lahir setelah tindakan resusitasi.
- Meningkatnya keterampilan dalam berinteraksi sosial melalui penerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
- Tenaga kesehatan memperoleh penguatan dan penyegaran materi
- Penerapan pengetahuan dan keterampilan tersebut dapat membantu meminimalisir frekuensi terjadinya jejas akibat asfiksia neonatorum berkontribusi dalam mengurangi tingkat morbiditas dan mortalitas neonatal.
BAB 2
SOLUSI PERMASALAHAN
A. Solusi
Untuk penyelesaian masalah, solusi yang ditawarkan adalah melaksanakan sosialisasi E_Modul Stabilisasi Bayi pasca resusitasi sebagai upaya penguatan pengetahuan bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Minasa Upa Makassar
B. Jenis Luaran
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat mempunyai luaran :
- Dokumentasi pelaksanaan
- Peningkatan pengetahuan
- Artikel
- E-Modul
- Haki
- Publikasi media massa
C. Solusi dan luaran pengabdian masyarakat
Sosialisasi E_Modul Stabilisasi Bayi pasca resusitasi sebagai upaya penguatan pengetahuan bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar
D. Riset terkait dengan kegiatan pengabdian masyarakat
Penelitian Afriani dan Fitriati Sabur pada tahun 2022 mengungkapkan bahwa pemberian informasi melalui aplikasi E-modul dan Quiziz berbasis Google Form terbukti meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan tentang program STABEL pada bayi pasca resusitasi di Puskesmas Kampili dan Somba Opu, Kabupaten Gowa, dengan nilai p mencapai 0,000. (7)
BAB 3
METODE PELAKSANAAN
A. Pelaksanaan Program
Kegiatan yang dilaksanakan di Puskesmas Minasa Upa menggunakan metode sosialisasi atau penyampaian informasi secara langsung kepada tenaga kesehatan, yaitu bidan, perawat, dan dokter. Rangkaian pengabdian ini dilaksanakan melalui tiga tahapan utama, yakni tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Untuk menjelaskan proses pada setiap tahapan, uraian detail disampaikan berikut ini.
Pada tahap persiapan, tim pelaksana pengabdian yang beranggotakan tiga orang dosen dari Jurusan Kebidanan dan satu dosen Jurusan Keperawatan melakukan beberapa langkah, yaitu :
a. Survey awal, yaitu melakukan kunjungan dan peninjauan lokasi yang akan digunakan sebagai lokasi pelaksanaan kegiatan untuk mengenali permasalahan mitra melalui data yang ada serta pengamatan langsung di lapangan.
b. Penetapan lokasi dan sasaran, di mana tim pengabdi berkoordinasi dengan pihak mitra berdasarkan hasil survey awal.
c. Proses administrasi, diawali dengan pengajuan surat permohonan izin untuk pelaksanaan kegiatan kepada Dinas Kesehatan Kota Makassar. Setelah izin diterbitkan, surat rekomendasi kegiatan diarahkan ke puskesmas terkait. Selanjutnya, tim turut melakukan koordinasi dengan pihak puskesmas sebagai fasilitas kesehatan primer yang bertanggung jawab terhadap layanan kesehatan ibu dan anak di daerah tersebut.
d. Penyusunan materi sosialisasi dilakukan sebelum kegiatan berlangsung. Seluruh anggota tim terlibat dalam menyiapkan bahan penyuluhan serta media bantu yang akan dipakai selama kegiatan, agar kelompok sasaran lebih mudah memahami informasi yang disampaikan.. Pada kegiatan ini tim pengabdi menggunakan E-Modul.
Tahap berikutnya adalah tahap pelaksanaan, di mana informasi disampaikan kepada peserta menggunakan E-Modul, serta didukung oleh media seperti power point dan LCD. Sebelum sesi penyuluhan dimulai, tim pengabdi terlebih dahulu mengukur pengetahuan awal peserta dengan memberikan pre-test berupa kuesioner yang terdiri dari 15 pertanyaan. Hasil dari pertanyaan-pertanyaan tersebut memberikan gambaran mengenai tingkat pemahaman awal peserta, sehingga pada akhir kegiatan dapat diketahui apakah wawasan/pengetahuan serta daya tangkap dari peserta meningkat.
Evaluasi merupakan tahapan yang paling akhir pada kegiatan ini. Penilaian dilakukan terhadap seluruh rangkaian kegiatan. Evaluasi bertujuan guna melihat seberapa jauh pemahaman khalayak sasaran dalam menangkap materi yang telah disajikan. Setelah penyuluhan selesai, peserta kembali diberikan post-test melalui kuesioner untuk menilai peningkatan pengetahuan mereka. Hasil test awal dan test akhir selanjutnya diolah guna mengetahui perubahan tingkat pemahaman. Selain itu, sesi tanya jawab di akhir penyuluhan juga dilakukan sebagai bentuk evaluasi langsung untuk menilai sejauh mana peserta menguasai substansi topik yang disampaikan.
B. Bentuk Partisipasi Mitra
Kontribusi mitra dalam menjalankan program pengabdian masyarakat ini meliputi penyediaan peserta serta fasilitas pendukung seperti LCD, layar proyektor, sound system, kursi, dan perlengkapan lainnya. Keberlanjutan program ini dijaga dengan menetapkan mitra sebagai lokasi pelaksanaan program layanan kesehatan ibu dan anak secara berkelanjutan.
C. Kepakaran dan Tugas Tim
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berfokus pada peningkatan kapasitas tenaga kesehatan. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan memerlukan keahlian di bidang kebidanan, keperawatan, serta pendidikan atau promosi kesehatan. Kualifikasi para pengusul dalam program ini telah sesuai dan sejalan dengan kepakaran yang dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan kegiatan.
D. Tempat Pelaksanaan dan Waktu
- Lokasi
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar, yang beralamat di Jalan Minasa Upa No. 18, Kelurahan Karunrung, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, 90122. - Waktu
Pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat berlangsung selama enam bulan, yaitu mulai April hingga Oktober tahun 2025.
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian masyarakat dilaksanakan dengan menetapkan sasaran, yaitu tenaga kesehatan yang tercatat sebagai pegawai Puskesmas Minasa Upa Makassar. Pelaksana kegiatan terdiri dari empat orang dosen, yaitu tiga orang dari kebidanan dan 1 orang dari Jurusan Keperawatan. Selain itu juga ditambah dengan 3 orang mahasiswa dari Jurusan Kebidanan. Kegiatan dimulai dengan melakukan survei ke lokasi pengabdian, yakni wilayah kerja Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar, dan selanjutnya mengurus persuratan-persuratan.
Surat ijin kegiatan yang telah diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kota Makassar, disertakan oleh tim pengabdi saat bertemu dengan Kepala Puskesmas dan Koordinator Bidan sebagai mitra. Setelah memperoleh persetujuan dari pihak Puskesmas, tim pengabdi mulai menyiapkan tools yang akan digunakan saat kegiatan. Pada tanggal 12 September 2025, kegiatan dimulai dengan sosialisasi kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Minasa Upa mengenai teknis pelaksanaan kegiatan. Setelah itu tim pengabdi menyepakati waktu pelaksanaan bersama para tenaga kesehatan (bidan, perawat dan dokter) yaitu pada tanggal 24 – 25 September 2025. Berdasarkan kesepakatan tersebut maka kegiatan pengabdian Masyarakat akan dilaksanakan pada tanggal 24 – 25 September 2025 di Ruang Aula Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar.
Pada tanggal 24 September 2025, kegiatan pengabdian masyarakat dimulai dengan pemberian pre-test mengenai konsep Stabilisasi bayi pasca resusitasi melalui kuesioner yang berisi 15 pertanyaan kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Minasa upa pada link pre test https://forms.gle/fag58bvqSg7fPTU49. Setelah itu, diberikan edukasi kepada tenaga kesehatan tentang konsep STABLE Program menggunakan media e-Modul melalui link https://read.bookcreator.com/fjr3IvfAPBTdLWmdYKP7CGM6ki42/4q0l5Io5RCOJa1JKY4EJlg
Kegiatan tersebut dihadiri oleh 40 orang tenaga kesehatan yang terdiri dari : 2 orang dokter, 12 orang perawat, 26 orang bidan.
Evaluasi post test dilakukan pada tanggal 25 September 2025 untuk menilai peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan tentang konsep Stabilisasi bayi pasca resusitasi melalui kuesioner yang berisi 15 pertanyaan kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Minasa upa pada link pre test https://forms.gle/fag58bvqSg7fPTU49. Evaluasi pengetahuan tenaga kesehatan menggunakan aplikasi Google Form sebagai alat untuk menilai pemahaman tenaga kesehatan terhadap konsep Stabilisasi bayi pasca resusitasi melalui media E-Modul. Pertanyaan-pertanyaan dalam Google Form tersebut dapat diakses melalui tautan https://forms.gle/fag58bvqSg7fPTU49 yang berisi 15 soal dan dibagikan kepada seluruh tenaga kesehatan sebagai partisipant di Puskesmas Minasa Upa melalui nomor WhatsApp masing-masing. Peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan terkait topik pengabdian Masyarakat dapat ditinjau dari perbedaan hasil nilai yang di capai masing masing tenaga kesehatan antara saat uji pre test dan uji post test pada kegiatan tersebut. Hasil tersebut di olah menggunakan rumus N – Gain untuk mengukur efektivitas sosialisasi / perlakukan yang dilakukan kepada participant dengan membandingkan peningkatan skor nilai yang diperoleh participant saat pre test dan saat post test kegiatan pengabdian. Hasil yang diharapkan mencakup tercapainya target dari segi jumlah peserta, tujuan dan topik yang telah direncanakan serta daya tangkap peserta mengenai topik yang disajikan. Target peserta dalam kegiatan pengabdian ini di wilayah kerja Puskesmas Minasa Upa Kota Makassar adalah sebanyak 40 orang tenaga kesehatan sebagai participant. Hasil pre test dan post di rekam dengan baik melalui aplikasi google Form dan data tersebut di olah menggunakan rumus N-Gain sebagai berikut :
N – gain : (post test – pre test) / (ideal – Pre test)
N – Gain Score menilai secara detail keefektifan penggunaan media e – modul tentang stabilisasi bayi pasca resusitasi terhadap peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan di Puskesmas Minasa Upa. Penilaian tersebut berpedoman pada tabel sebagai berikut :
Tabel 1 Pembagian N – Gain Score
Tabel 2 Kategori Tafsiran Efektivitas N – Gain
Kategori Tafsiran Efektivitas N – GainPersentage (%) Tafsiran
< 40 Tidak Efektif
40 – 55 Kurang efektif
56 – 75 Cukup Efektif
76 Efektif
Sesuai dengan hasil uji N- Gain di atas memperlihatkan bahwa mean N- Gain skor mencapai nilai 0.81 dalam kategori tinggi dan Nilai Prosentase N-Gain 80.6 % yang berarti bahwa penggunaan media e – modul tentang stabilisasi bayi pasca resusitasi efektif terhadap peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan di Puskesmas Minasa Upa
Secara procedural pelaksanaan kegiatan yakni sebelum dilakukan sosialisasi, tenaga kesehatan diberikan pre tes dengan menggunakan kuesioner untuk di isi. Hal tersebut bertujuan untuk menggali pengetahuan awal dari peserta. Setelah itu dilakukan sosialisasi / penyegaran materi kepada tenaga kesehatan dengan menggunakan E-modul. Disamping itu tim pengabdi juga menggunakan media pendukung berupa file power point.
Selama kegiatan sosialisasi berlangsung, peserta tampak sangat aktif dengan mengajukan berbagai pertanyaan terkait materi yang disampaikan. Antusiasme mereka menunjukkan ketertarikan yang tinggi terhadap topik yang dibahas. Setelah sesi sosialisasi selesai, peserta kembali di instruksikan untuk melakukan pengisian kuesioner untuk menilai tingkat pengetahuan akhir. Terjadi peningkatan pemahaman yang terlihat dari kemampuan sebagian besar peserta menjawab pertanyaan dalam kuesioner dengan baik.
Jumlah peserta yang ditargetkan di sini adalah 40 orang, dan pada pelaksanaannya jumlah tersebut terpenuhi sepenuhnya. Dengan kehadiran peserta yang mencapai 100%, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berhasil dari segi capaian jumlah peserta.
Keberhasilan kegiatan juga tercermin dari tingginya antusiasme peserta selama proses sosialisasi. Mereka tampak serius mempelajari materi melalui E-modul yang disediakan. Penyampaian materi yang tersusun secara sistematis dan menggunakan bahasa yang sederhana turut mendukung tercapainya tujuan kegiatan.
Tingkat penguasaan materi oleh peserta juga tergolong baik, ditunjukkan dengan terlihat perbedaan pengetahuan yang bermakna antara kondisi pra dan pasca pemberian materi. Sebagian besar peserta dapat menjawab soal kuesioner dengan benar. Secara umum, program pengabdian kepada masyarakat ini dapat berjalan dengan optimal, berlangsung lancar, dan memberikan keluaran yang sangat memuaskan.
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang telah dilaksanakan di Puskesmas Minasa Upa adalah :
- Kegiatan pengabdian masyarakat di Puskesmas Minasa Upa berjalan dengan lancar dan telah mencapai target sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu seluruh tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Minasa Upa.
- Sosialisasi tentang stabilisasi bayi pasca resusitasi dengan menggunakan E-modul, terbukti efektif meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan di Puskesmas Minasa Upa
- Kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik dan berjalan tanpa hambatan.
B. Saran
Dari hasil kegiatan ini disarankan untuk :
- Diharapkan para tenaga kesehatan dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pelayanan, khususnya stabilisasi bayi baru lahir pasca resusitasi.
- Diharapkan institusi pelaksana dapat melanjutkan kegiatan serupa di wilayah lain dengan pengembangan metode yang lain

















Tinggalkan Balasan