KENDARI.FS.COM – Prestasi membanggakan datang dari salah seorang putra terbaik Massenrempulu. Prof. Masdin, http://M.Pd., resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Pendidikan Agama Islam di IAIN Kendari, Sabtu (31/10/2026).

Dengan pengukuhan tersebut, Prof. Masdin menambah deretan guru besar di IAIN Kendari.

Perjalanan menuju puncak akademik itu tidaklah instan. Prof. Masdin kecil adalah warga Rantelimbong, Desa Buntu Barana, Kecamatan Curio, Kabupaten Enrekang. Ia memulai karier sebagai ASN di IAIN Kendari setelah menempuh perjalanan pendidikan yang panjang.

Masa kecilnya dihabiskan di Rantelimbong. Pendidikan Sekolah Dasar, MTs Buntubatana, hingga Madrasah Aliyah ia selesaikan di kampung halamannya.

Pada tahun 1986, ia merantau ke Ujungpandang (Makassar) untuk menuntut ilmu di IAIN Alauddin yang kini menjadi Universitas Islam Makassar (UIM), pada Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam.

“Dengan semangat belajar tinggi, dan berkat dorongan serta doa kedua orang tua, yang membawanya pada titik ini, dan juga tidak lepas dari motivasi keluarga yang selalu hadir di segala hal kehidupan baik suka maupun duka,” tulisnya.

Prof. Masdin dikenal sejak kecil sebagai anak yang tekun, sabar, dan rajin membantu orang tua. Ia merupakan anak ketiga dari 10 bersaudara dari pasangan H. Anshar Maseng dan Hj. Rabania. Sang ayah yang merupakan pensiunan guru agama Islam turut hadir mendampingi dalam acara pengukuhan tersebut.

Momen pengukuhan itu menjadi haru bagi sang ayah.

“Aku sangat terharu dan teringat kembali pada perjalanan hidup yang serba sulit di masa mereka masih kecil, dan tak pernah terbayangkan kalau mereka bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Ini semua kuasa Allah. Dan akhirnya mereka semuanya mengecap pendidikan di perguruan tinggi, suatu hal yang aku syukuri,” tuturnya dengan penuh semangat.

Lebih lanjut ia mengatakan, meski usia sudah tua dan fisik tak lagi kuat menempuh perjalanan jauh, rasa sayang kepada anak membuatnya tetap berangkat dari Enrekang ke Kendari.

“Saya datang dari Enrekang ke sini, diantar sama anak untuk menghadiri pengukuhan guru besar. Sebenarnya saya sudah tua dan fisik sudah tidak kuat lagi menempuh perjalanan jauh akan tetapi rasa kasih sayang terhadap anak saya berangkat juga, sekaligus melepas rindu sama cucu di sini. Dan Alhamdulillah ketiganya sudah besar dan sudah mulai bekerja sebagai dosen, yang pertama Rahmat dosen di Kolaka dan Wahyu dosen di Politeknik Bali, yang bungsu jadi koreografer komunikasi visual,” pungkasnya.

(Her)

Baca Juga:
Berita terbaru kategori Enrekang